.. warning: postingan berikut akan menjadi suatu postingan random tak menentu.
“Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang
telah mampu untuk kawin, maka hendaklah dia menikah.
Karena dengan menikah itu lebih dapat menundukkan
pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa
yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena
sesungguhnya puasa itu bisa menjadi perisai baginya”
(HR. Bukhori-Muslim)
tapi sebenarnya kapan saat yang tepat bagi kita memutuskan untuk menikah?
Ya kalau sudah siap.
tapi kapan kah kita bisa dinyatakan siap untuk menikah? atau kapankah kita HARUS siap untuk menikah?
Beberapa alasan yang sering diutarakan orang yang menunda pernikahan, mungkin diantaranya juga alasan saya yang tidak ingin cepat-cepat menikah:
1. Nabung dulu, kerja dulu, mapan dulu..
Mengapa kita cenderung menunggu mapan dulu untuk menikah? dan kapankah definisi mapan terpenuhi mengingat sifat dasar manusia yang nyaris tidak pernah merasa puas?
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. JIka mereka miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.”
(An Nuur 32)
Seseorang pernah mengajak saya berdiskusi mengenai hal ini. “kenapa ya orang selalu nunggu mapan dulu saat mau nikah? bukannya menuju mapan berdua lebih menyenangkan daripada harus berjalan sendiri? susah senang bisa dilalui bareng, bisa saling mendukung, dan ada orang yang selalu mengingatkan bahwa apa yang kita kerjakan itu memang untuk dia”
nah loh.. saya gak bisa jawab apa-apa juga..
2. Mengejar mimpi atau karir dulu semasa muda
Mengapa kita cenderung ingin mengejar mimpi sendirian? Bukankah lebih menyenangkan ketika kita bisa mengejar mimpi bersama dengan orang yang kita sayang? Bukankah harusnya mengejar karir akan lebih membahagiakan ketika setiap pulang kantor ada seseorang yang menunggu cerita-cerita kita di rumah? Bukankah untuk seorang wanita, akan lebih hebat ketika secara bersamaan dia bisa menjadi wanita karir sekaligus seorang istri/ibu yang sukses?
3. Takut bukan dia yang terbaik
Semasa pacaran mungkin dia yang paling baik untuk kita. dia baik, perhatian, hangat, akrab dengan seluruh keluarga kita. tapi wajarkah muncul ketakutan bahwa nantinya sikap dia akah berubah ketika sudah menikah? Seperti apa dia kalau menghadapi tangisan bayi setiap malam? jangan-jangan dia yang selama ini kuat di depan kita, akan berubah menjadi seseorang yang tidak kita kenal ketika problem rumah tangga muncul. auch.. saya sepertinya kebanyakan nonton sinetron..
Susah ya menentukan kapan kita siap. Mungkin ketika nanti sudah tiba waktunya, akan ditunjukkan jalan untuk menemukan waktu dan pasangan yang tepat. Saat ini yang bisa dilakukan, mempersiapkan diri sebaik mungkin, supaya ketika saat itu datang kita sudah siap
Love,
Dhea