November Ceria

November 2015. 9 bulan berlalu sejak update blog yang terakhir *blush*. Alhamdulillah, so many updates since then that has made my life more colorful each day.  Three of my favorites are:

1. Kebersamaan

Alhamdulillah acara akad dan resepsi pernikahan kami berjalan dengan lancar tanggal 11 April 2015 lalu. 6 Bulan menjalani hidup rumah tangga yang super seru bersama sang suami. Kalau orang bilang, walau udah pacaran bertahun-tahun biasanya kalau abis married baru ketauan tuh belang-belangnya. But I don’t think so, he’s still the one that I know since many many years ago. Malah entah kenapa abis nikah itu malah tambah-tambah sayangnya.ūüôā

Btw, punya hutang untuk tulis vendor review, sudah didraft sejak berbulan lalu, tapi belum beres-beres.ūüėÜ

Big DY

Glance of our wedding day

 

2. Keajaiban

Kapan-kapan saya akan ceritakan kenapa section ini saya namakan keajaiban. Singkat cerita, we’re expecting now. Si baby utun di dalam saat ini sudah menginjak 5 bulan. Mohon doanya yaūüôā

A bundle of happiness

A bundle of happiness

 

3. Kesempatan

One of big decision that I took on my birthday last 2 months: Resigning from my previous company, IBM. Perusahaan pertama sejak lulus kuliah, perusahaan yang isinya orang-orang baik semua. Perusahaan yang udah kasih banyak sekali pengalaman dan kenangan *lalu jadi mellow*. I’m moving from Big Blue to Flying Blue.ūüėÜ

IMG_1940

Update segitu dulu ah supaya saya gak procrastinate untuk cerita panjang di weekend ini.ūüėÜ

Book Review: Think Like a Freak

IMG_3219

This book’s just tooo AWESOME!
Let me not to ruin the beauty of this book by write my messy yet lousy review here. Just experience reading this book by yourself, and let me know your thought about that. just wanna check am I that freak to think that this book is so awesomeūüėÜ

Here I only rewrite what is in its last page as a reminder of good notes for myself.

Now that we’ve arrived at these last pages, it’s pretty obvious: quitting is at the very core of thinking like a Freak. Or, if that word still frightens you, let’s think of it as “letting go”. Letting go of the conventional wisdoms that torment us. Letting go of the artificial limits that hold us back-and of the fear of admitting what we don’t know. Letting go of the habits of mind that tell us to kick into the corner of the goal even though we stand a better chance by going up the middle.

We might add that Winston Churchill, despite his famous to those Harrow schoolboys, was in fact was one of history’s greatest quitters. Soon after entering politics he quit one party for another, and later he quit government altogether. When he rejoined, he quit parties again. And when he wasn’t quitting, he was getting tosses out. He spent years in the political wilderness, denouncing Britain’s appeasement of the Nazis, and was returned to office only when that policy’s failure had led to total war. Even in the bleakest moments, Churchill did not back down one inch from Hitler; he became “the greatest of all Britain’s war leaders,” as the historian John Keegan put it. Perhaps it was that long streak of quitting that helped Churchill build the fortitude to tough it out when it was truly necessary. By now, he knew what was worth letting go, and what was not

…..
……..

mmm… melting!
So, finding a good book gives you the same feeling as falling in love. It makes your heartbeat going faster every time you read the words.

Emosional

SELAMAT TAHUN BARU 2015! *telat 2 bulan*

2014 itu kemarin berlari seperti kereta express bogor-jakarta sebelum akhirnya diganti Commuter Line. Cepat. Upside-down. Banyak keputusan besar mulai dari ganti role dikerjaan, sampai keputusan untuk gw dan Aldo membawa hubungan yang sudah berlumut ini ke jenjang berikutnya.

Kurang dari 2 bulan lagi. Mulai panik tentang apa aja yang sebenarnya harus dipanikin. Selain itu, gw juga merasa diri gw mulai semakin emosional. Bukan emosional seperti halnya menjadi seorang Bridezilla marah-marah dan panik ngurus perintilan ini itu. Tapi lebih ke emosional dalam memandang hubungan gw dengan orang-orang rumah.

Kurang dari 2 bulan lagi. Udah ga bakal ada lagi adek gw di kamar. Yang bisa gw colok-colok idungnya kalo gw udah bangun duluan. Yang bisa gw ambil biskuit Lemonia nya kalo tengah malem kelaperan. Yang bisa gw tanya-tanya kepo pacarnya siapa dan gw dengerin omelannya soal betapa dia tertindas menjadi anak tengah di keluarga.

Kurang dari 2 bulan lagi. Gak bisa setiap hari liat ade gw yang cowo ngejailin si tengah. Liat dia setiap hari bermalas-malasan di kasur sambil main clash of clan. Dan gw udah gak bakal ada di kamar ketika dia masuk dan minta tolong untuk print-in tugas sekolah nya dia.

Kurang dari 2 bulan lagi. Ga ada sesi nyinyirin ART sama nyokap tiap hari. Atau tuker gosip soal perkembangan commuter line dan diskon terbaru di kota. Ga ada yang ngomelin kalo gw males beresin kamar. Dan mungkin ga setiap minggu bisa makan kue langgi lalu diikuti sesi salon dan belanja bareng.

Kurang dari 2 bulan lagi. Gak bisa tiap hari liat bokap masuk kamar lalu ngobrol dan becanda bareng semua anaknya. Ga ada yang ingetin kalo gw lupa isi air bak di kamar mandi. Mungkin gak setiap minggu bisa ikutan ritual makan bubur-atau-nasi-tim di minggu pagi. Ga ada yang subuh-subuh masuk kamar buat pamit kerja sambil ciumin anak-anaknya.  Continue reading

PPM Part 1 – My Vendor is My Team

Desember. Gak kerasa udah jalan 5 bulan dari awal persiapan. Alhamdulillah sampai saat ini belum ngerasain pusing-pusing yang gimana banget. Ya mungkin nanti ada saatnya kali ya, apalagi denger cerita beberapa teman yang udah pernah melewatinya sampai bilang gak mau lagi ulangin masa-masa persiapan itu. Tapi sampai sekarang yang kerasa masih senengnya. Malah kalau ditanya, rasanya jadi pengen punya EO buat bisa ngurusin ginian terusūüėÜ

Oya, untuk persiapan ini kami berdua ngurus sendiri. Jadi dari mulai nentuin konsep sampai pilih vendor kita yang keliling dan browsing-browsing sendiri. Dan satu hal yang gw¬†sadarin, hal¬†ini bikin gw¬†sadar kalau gw¬†orangnya emang cinta dengan proses¬†“mengenal” orang. Tiap mau pilih vendor biasanya gw¬†baca review dulu, kalau dari reviewnya oke lalu kita datangin tempatnya. Di situ lah moment of truth¬†nya, setelah ketemu dan¬†ngobrol sama ownernya, gw¬†bisa merasakan ada atau tidaknya chemistry antara kita (gubrak).¬†Kalau¬†chemistry¬†nya kuat berarti okay, kalau enggak ya.. big no.

Contohnya saat gw menentukan vendor fotografi. Pusing nentuin mana yang pas dengan selera dan tentunya budget, akhirnya dapat lah 3 kandidat utama yang kalau dilihat dari sisi review dan portofolio itu sama-sama bagus dan sama-sama pas di kantong. Akhirnya dibuat lah janji dengan ketiga nya di hari yang sama.

Vendor A, dari pas di kontak untuk ketemuan aja balesnya lama banget. Pas bales pun gak ramah sama sekali. Diajak ketemuan di Plaza Indonesia, dia maunya ketemu di Senopati aja karena deket sama kantor mereka. Akhirnya pas mereka konfirmasi gw cuekin chat nya dan gak jadi ketemuan. Ilfil~

Vendor B, ramah banget waktu bales whatsapp. Baru nanya-nanya dikit eh mereka yang ajak ketemuan, biar bisa sekalian tunjukin hasil-hasilnya katanya. Lalu datanglah rombongan timnya beserta istri dan anaknya (dikeroyok boo..). Tapi justru entah kenapa klik! banget dari awal ketemu, gesturenya santai, liat keluarga mereka yang super lovely, dan cara mereka yang tunjukin karya tapi juga tetap mendengarkan konsep yang gw mau kayak gimana.

Vendor C, waktu chat juga ramah dan responsif banget. Salahnya mungkin ketemu dia setelah gw ketemuan sama vendor B. Dari suasana santai dan kekeluargaan, gw lalu dihadapkan pada pilihan yang profesional. Jadi si ownernya dateng dengan bawa asisten di sebelahnya yang catetin segala point obrolan kita. Kaku banget deh pokoknya. Akhirnya, banyak awkward moment dan itu bikin gw gak nyaman. 15 menit kemudian gw pamit dan janji akan kabarin minggu depannya. Maaf ya.. 

Dan lalu pilihan pun jatuh ke Vendor B. yeay!

Hal yang sama terjadi dengan yang vendor-vendor lain seperti dekor, catering, make up, dan WO. Bikin gw inget jaman muda dulu waktu masih asik-asikan di kampus. Kenalan sama¬†orang, Ikutan organisasi atau kegiatan, tapi diantara itu, pasti ada beberapa orang yang kita nyaman kerja bareng mereka. Teman-teman yang enak untuk diajak tuker pikiran, atau bahkan ngobrolin hal lain di luar kerjaan. Diajak ngerjain tugas enak, kerja di himpunan atau unit enak, bahkan jalan-jalan ngalor ngidul keliling Bandung juga enak. Orang-orang ini¬†yang kemudian tanpa sadar kita jaga untuk selalu berada di¬†Inner Circle kita. Hahaha.. kok jadi kangen kampus ya..ūüôā

Tantangan selanjutnya adalah bagaimana membuat orang yang kita nyaman kerja bareng¬†mereka juga bisa nyaman bekerja sama satu sama lainnya. Gw¬†cuma bisa berharap semoga semuanya berjalan dengan lancar. Semoga anggota tim yang kita sudah pilih ini bisa kerja sama dengan baik untuk menghasilkan acara yang baik juga. My vendor is my team and I’m gonna make¬†a superb team!

Ya ya ya.. sekarang masih happy dan semangat, mungkin akan ada hal-hal yang buat kita pusing nantinya. Hal-hal yang mau gak mau mungkin bikin kita adu otot dan urat¬†berdua. But one thing that I will always try to remember, this event might be important for us, but the most important thing is: at the end of the day it’s just an event, many many¬†more exciting milestones¬†will come afterward. Insya Allah.ūüôā

Us

‚ÄúLove is never guaranteed. Love is a risk we take because we hope it will make us happy.‚ÄĚ ‚Äē Susane Colasanti, Keep Holding On

¬†ps: PPM means Pusing Pusing MenyenangkanūüėÜ

Mudahnya Mendapatkan Visa Turis Australia

Hai, lama tidak update soal hal-hal yang berbau liburan (tanda yang punya blog mulai haus jalan-jalan). Kali ini saya mau share proses¬†untuk mendapatkan Visa Australia. Untuk lengkapnya sebenarnya website kedutaan Aussie sudah menyajikan detail lengkap berbahasa Indonesia (bisa dicek di sini atau¬†sini). Namun untuk mempermudah, saya akan coba membahas secara ringkas untuk visa turis non sponsor. Artinya, tulisan ini mungkin akan membantu jika kalian berniat mencoba apply sendiri visa untuk jalan-jalan ke Australia (selama durasi kurang dari 3 bulan) dengan dukungan biaya dan penginapan individu¬†(bukan nebeng relasi atau mendapat dukungan sponsor dari orang lain).¬†Jadi buat teman-teman yang nanti menanyakan untuk keperluan di luar itu, silahkan cek langsung ke web nya ya.ūüôā

Kenapa di judul saya bilang mudah? Karena memang mudah banget! Jauh lebih mudah dari visa Schengen yang waktu itu pernah saya tulis di sini.

Apa saja dokumen yang perlu dipersiapkan?

Jika teman-teman mengurus sendiri visa seperti yang saya lakukan, dokumen yang diperlukan ialah:

  1. Formulir Pendaftaran. Untuk visa turis, masing-masing orang harus mengisi formulir utama (formulir 1419) dan juga formulir tambahan. Formulir Pendaftaran bisa diisi langsung di pdf sebelum di-print atau boleh juga di-print lalu tulis tangan. Kalau kita lihat di dalam form tersebut, di Part M kita bisa lihat Application Check List yang bisa memberi tahu kita dokumen mana saja yang masuk golongan wajib untuk dipenuhi dan mana yang masuk ke additional. Informasi yang harus diisi di dalam form cukup simple dan mudah, tricky thing ada di Part L Рpayment details. Nanti aku coba bantu bahas di bagian selanjutnya ya.
  2. Fotokopi Paspor. Yang mencakup halaman biodata beserta halaman visa, cap imigrasi, dan paspor lama jika ada.
  3. Pas Foto Terbaru. 1 lembar pas foto terbaru dengan ukuran sama dengan pas foto di passport.
  4. Surat Pernyataan dari Tempat Bekerja. Yaitu surat dari perusahaan yang diharapkan isinya mencakup lama bekerja, gaji, dan lama cuti yang disetujui. Sebenarnya, surat ini masuk ke additional documents yang bukan jadi syarat wajib. Tapi saran saya gak ada salahnya yang additional teteap kita penuhi semua
  5. Bukti Rekening Tabungan. Yaitu print out rekening koran tabungan 3 bulan terakhir.  Ini termasuk ke additional requirement juga loh. Jadi syarat ini tidak wajib, namun lagi-lagi saya akan sarankan untuk tetap kita sediakan demi memperlancar proses disetujuinya visa kita. Oya, beda dengan Eropa, Australia tidak mencantumkan berapa minimal dana yang kita punya untuk menyokong hidup di sana per hari nya. Namun saran saya, sediakan >20 juta untuk satu minggu perjalanan jika mau gampang dapat approval untuk Visa Australia nya.
  6. Fotokopi KTP.¬†Ini syaratnya tidak dicantumkan di website, tapi untuk jaga-jaga kita provide ajaūüôā

Namun, Continue reading

Book Review: Love & Misadventure by Lang Leav

FullSizeRender

All or Nothing

If you love me
for what you see,
only for your eyes would be
in love with me.

If you love me
for what you’ve heard
then you would love me
for my words.

If you love
my heart and mind
then you would love me
for all that I’m.

But if you don’t love
my every flaw,
then you mustn’t love me–
not at all.

Sejak lulus dari kuliah, dunia terasa berjalan begitu cepat. Ketika matahari hanya terasa mampir setiap harinya. Tahun baru berlari cepat menuju tahun berikutnya. Milestone kehidupan yang menggeliat dan berontak untuk cepat dipenuhi karena tersusul oleh usia.

Seseorang memperkenalkan gw ke buku ini, bukan tipe buku yang biasa gw beli karena setiap halamannya hanya berisi beberapa kata saja. Tapi ternyata buku ini mampu menyihir gw dengan berlama-lama menatap tiap halamannya. Mencoba untuk menikmati setiap kata. Belajar untuk tidak tergesa mencapai bagian akhir untuk mengetahui akhir dari cerita.

Buku yang berhasil membuat gw bisa belajar menikmati setiap halaman dan isinya.

Sekarang saatnya gw balik mencoba menikmati setiap sisi dari buku hidup gw sendiri. Jangan sampai tergesa dan akhirnya lupa.

You had better slow down
don’t dance so fast
time is short
and the music won’t last

Waktu yang Tepat

Kapan Waktu yang tepat untuk Menikah?

Jawaban saya: ketika kita sudah siap.

Kapan kita dikatakan siap untuk Menikah?

Jawaban saya: tidak akan pernah siap.

Ya, menurut saya pernikahan itu merupakan keputusan seumur hidup yang harus dipertanggungjawabkan. Jadi kalau ditanya apakah kita sudah siap menikah? pasti jawabannya selalu belum. Tapi seiring berjalannya waktu, saya yakin bahwa ada satu masa dimana kita bisa merasakan bahwa kita sudah lebih siap, atau jauh lebih siap dari sebelumnya.

Hal ini yang dirasakan ketika akhirnya di tahun ini saya dan Aldo memutuskan untuk bilang ke orang tua bahwa kami sudah siap menikah. Flashback 3 tahun lalu, Aldo pernah cerita soal saran ayahnya untuk segera menikah di tahun 2011, jujur pada waktu itu saya takut sendiri. Gila aja umur saya masih 22 saat itu, gak kebayang yang namanya ngurus rumah, apalagi ngurus anak ((anak!)). Masih baru lulus dan belum punya apa-apa. Gaji bulanan masih sering habis karena gaya hidup di Jakarta. Masih ingin jalan kesana-kesini nikmatin hasil yang didapat dengan keringat sendiri. Kesimpulannya pada saat itu, saya tidak siap untuk menikah dan mungkin tidak akan pernah siap.  Continue reading