Memenangkan Hati

Saya baru saja selesai membaca salah satu buku Dale Carnegie yang berjudul: How to Win Friends and Influence People in Digital Age. Seperti buku-buku lainnya, karya Carnegie yang satu ini merupakan sumber yang menarik untuk berkontemplasi.

Dalam buku ini dibahas beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Dalam berinteraksi, kita kadang kurang sadar diri ketika hal-hal yang kita lakukan ternyata kurang mengenakkan untuk orang lain, atau mungkin interaksi yang kita lakukan malah menjauhkan kita dari esensi interaksi itu sendiri. Egosentris yang memang merupakan sifat bawaan manusia, membuat kita sering memposisikan diri di urutan pertama sebelum menimbang kepentingan orang lain.

Disini saya ingin mengulas dua poin yang menurut saya cukup menarik pada buku ini: Menyimak Lebih dan Menghindari Argumen.

Menyimak Lebih Lama..

Coba kita cek: saat kita sedang berkumpul bersama teman, saat kita sedang berdiskusi di suatu rapat, kita cenderung menyimak lalu menyimpulkan dan bertindak, atau kita adalah si aktif yang menjadikan pertemuan atau rapat itu adalah press conference untuk kita agar orang lain mengetahui isi kepala kita? cerita-cerita kita?

Sama seperti senyuman, kekuatan menyimak itu besar.
Namun, sudah cukup kah kita berusaha untuk memberi perhatian lebih untuk hal-hal yang disampaikan oleh orang lain?

Menurut Dale dalam bukunya: saat kita menyimak, kita tidak hanya  menimbulkan sebuah kesan yang instan, namun kita membangun sebuah jembatan yang solid untuk hubungan yang berkelanjutan. Siapa yang tidak suka berada di sekitar orang yang mau menunda untuk menuangkan pikirannya agar dapat menghargai pikiran orang lain?

Punya banyak teman namun tetap merasa kesepian? Berada di tengah keramaian namun seperti tidak diperhatikan? Mungkin saatnya kita evaluasi apakah dalam berinteraksi kita yang terlalu banyak bicara dan sedikit menyimak? Senangkah teman-teman kita ketika berada di sekitar kita? Sudahkah kita membuat mereka merasa lebih dihargai ketika bersama kita?

Sering kali orang berkata bahwa kita di dunia untuk hidup dan belajar, namun mungkin akan lebih harmonis lagi dunia ini jika orang-orang mau untuk lebih MENDENGAR dan belajar.

Menghindari Argumen.

Mari sejenak kita perhatikan, akhir-akhir ini begitu banyak waktu kita habiskan di Internet dengan berdebat atau memberikan argumen. Ambil contoh di blog atau situs terkenal, nyaris semua komentar berkisar antara apa yang dikatakan orang lain dan usaha untuk menonjolkan diri. Seluruh konten yang disampaikan biasanya berkisar tentang poin-poin untuk membuktikan pendapat, untuk membuktikan bahwa kita yang benar.

Beberapa kasus efek argumentasi juga diceritakan dalam buku ini. Salah satunya adalah ketika Tony Hayward, Chief Executive British Petroleum, yang menunjukan sikap tak acuh saat menanggapi tumpahan minyak di teluk Amerika Serikat. Alih-alih meminta maaf atau mengakui kesalahan, dia malah menyatakan pendapatnya bahwa tumpahan itu “kecil” dibandingkan dengan tragedi tumpahan terbesar di Amerika yang terjadi bertahun silam. Jika saja dia memilih untuk meminta maaf, melakukan aksi, dan menghindari argumentasi, pria dan BP tidak mungkin kehilangan kredibilitasnya di mata publik pada saat itu.

Efek buruk atas sikap mengedepankan argumentasi pribadi ialah menghindarkan kita dari Toleransi. Padahal, bersikap toleran berarti melatih kita untuk lebih menjadi seorang negosiator daripada argumentator. Bukankah jika kita menginginkan perdamaian dan demokrasi, kita harus bersikap lebih toleran, untuk kemudian mampu menegosiasikan lebih lagi?

Mari sejenak kita bayangkan jika saja bapak-bapak berjas yang duduk di bangku pemerintahan mau bersikap lebih toleran dan menghindari argumentasi, mungkin jadinya akan terasa berbeda antara menonton OVJ dan menyimak rapat paripurna mereka di TV. 😛

“Kita semua tahu cara mendapatkan perhatian, tetapi hanya sedikit yang tahu cara mendapatkan perhatian dan rasa hormat di saat yang bersamaan” – Esther Jeles
jadi…
Sudahkah kita cukup kuat mengesampingkan keinginan kita berbicara dan menyimak orang lain lebih lama?
Sudahkah kita mencoba sedikit demi sedikit menghindari argumen?
Dan sudahkah kita sadar bahwa orang lain lah yang merupakan aspek penting untuk kita berkolaborasi?

Salahkah jika mengatakan bahwa degradasi sosial di sekitar kita yang terjadi akhir-akhir ini, disebabkan semakin kurangnya keinginan untuk berkolaborasi dan bersinergi?

and well,
Semoga di hari ulang tahun Indonesia ke 67 ini, kita bisa menjadi warga negara yang lebih baik lagi. Semoga di tahun-tahun mendatang, Negeri ini dipenuhi orang-orang yang senang berlomba untuk memenangkan hati, bukan memenangkan diri 🙂

Dirgahayu Indonesia!
(gambar diambil dari sini)

Advertisements

12 thoughts on “Memenangkan Hati

    • your welcome bhel..
      coba baca aja bukunya, makin banyak poin yang bikin jleb-jleb dan malu sendiri..
      salah satunya, kita kadang suka gak sadar kalo sering ceritain diri sendiri di social media kayak twitter atau fb instead of menggunakannya untuk menunjukkan kalau kita care sama orang lain. 😆 soo truuee…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s