Bersyukur Membuatku Malu

Setiap hari, saya menuju ke kantor menggunakan beberapa macam kendaraan umum. Mulai dari ojeg, kereta, kopaja, atau bahkan kadang berjalan kaki. Di perjalanan itu tentunya bertemu berbagai macam orang, dan dengan beragam kondisi tentunya.

Di kereta, selalu ada pengemis yang mengais rejeki. Mayoritas memiliki cacat di bagian tertentu tubuhnya. Ada juga pengemis yang setiap hari menyambut saya di gerbang stasiun, seorang ibu-ibu tua. Entah kemana anak atau pun saudaranya.

Turun dari kereta, saya melanjutkan perjalanan singkat dengan kopaja. Tak jarang bertemu dengan pengamen atau anak jalanan. Dari nyanyian mereka, kadang tersirat teriakan hati bahwa mereka sebenarnya ingin sekolah, ingin kaya, ingin berada, namun sayangnya nasib yang membawa mereka dari kopaja ke kopaja.

Apa yang saya lakukan ketika melihat itu semua? Terbersit rasa syukur. Bersyukur untuk kelengkapan raga yang saya punya. Bersyukur untuk perhatian keluarga dan tempat tinggal yang nyaman yang masih saya dapatkan. Bersyukur atas pendidikan yang bisa saya enyam. Bersyukur atas segala rezeki yang Tuhan berikan.

Sampai kemudian saya merasa malu atas segala rasa syukur saya.

Kenapa saya baru bersyukur ketika melihat ke bawah? ketika melihat orang kekurangan.  Saya bersyukur atas nikmat yang saya miliki namun belum bisa mereka rasakan. jahat sekali.

Kemana saya ketika sedang berada di kesenangan? Seingat itukah saya akan rasa syukur ketika sedang bahagia dibanding ketika sedang melihat ketidaknyamanan yang dirasakan orang yang saya ceritakan di atas? sombong sekali.

Kenapa kita cenderung bersyukur saat melihat kekurangan yang dimiliki orang lain?

Sedang belajar untuk bersyukur dalam segala kondisi. Bersyukur karena segalanya memang patut untuk disyukuri.

Sedang belajar untuk alih-alih refleks bersyukur, lebih baik refleks mendoakan orang-orang dengan ketidaknyamanan tadi.

Sedang belajar untuk menerapkan syukur yang tidak membuat malu diri sendiri..

Advertisements

2 thoughts on “Bersyukur Membuatku Malu

  1. Bbrp minggu lalu aku nonton Kick Andy, ngebahas ttg kehidupan seorang Dahlan Iskan, Dhe… Si penulis cerita inti dari buku yg di tulis ini biar orang2 jgn merasa kemiskinan tuh akhir dari segalanya, kita harus berfikir dr arah lain untuk mensyukuri ‘kemiskinan’ atau kekurangan yg kita miliki…. Inspiratif banget! Seandainya mereka-mereka yg berkekurangan ini bisa beli bukunya dan menteladani sosok Dahlan Iskan yg mulai dari bawah banget….. Negara kita pasti gak kalah maju sama negara tetangga.

    Dulu waktu aku masih ngangkot di Jakarta, paling sebel kalo ada preman naek, sok2 pake iket pala+celana kulit+kaos kutung item2, tato2… Ga nyanyi ga berpuisi malah triak2 bentak minta duit. DARI PADA SAYA NGRAMPOOOOK MENDING SAYA MINTA LANGSUNG AJA YA DUIT BAPAK BAPAK IBU IBU -_______-
    Bung preman begitu aja aku udah sebel stg mati, eh giliran deketin aku, Siprem ngomong: “nci jgn diem aja donk. saya perlu makan ini nci, masa kasih GOPEEEEE. jgn sampe piso saya yg minta nih nci.” Pingin triak F* off dia kaga ngerti, ga di kasih 1000 jiper juga sama piso dan tatonya -,-

    • wah iya bener ya fabz.. kita suka fokus sama kekurangan, mungkin dari awal mentalnya emang dididik untuk menerima kondisi apa adanya eh ralat. seadanya.
      😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s