si super empati, keluarga Minori

Untuk bisa menghargai kebebasan beragama, Orang Islam di Indonesia harus pergi ke luar pangkuan ibu pertiwi, menjadi minoritas di sana,barulah mereka paham bagaimana menghormati antar umat beragama.

quote yang pernah saya dengar saat awal masa kuliah dari seorang teman.

ironis #1

entah mengapa saya merasa jengah saat dulu setiap rapat di sekolah akan dimulai dengan membaca basmallah dan diakhiri dengan membaca doa majelis. bukan masalah doanya. memang sudah sepatutnya di setiap kegiatan kita awali dengan doa.  namun, setiap kami melakukannya saya selalu mencuri pandang ke arah teman saya yang berbeda agama. haruskah mereka menjalaninya padahal jelas sekali sekolah saya adalah sekolah umum dimana semua orang dari suku bangsa dan kepercayaan yang berbeda dapat menuntut ilmu di dalamnya. setelah suatu pertanyaan kembali ke diri, nyamankah kamu bila berada di posisi mereka, akhirnya cukup “berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing” yang saya lakukan ketika memimpin rapat. bahkan ketika di forum umum saya mengucapkan salam akan diikuti dengan sapaan selamat pagi/siang/sore. salahkah? entah…

entah dengan apa kamu sebut Tuhanmu. entah bagaimana kamu sembah Tuhanmu. yang saya tahu,  Tuhan memerintahkan kepada makhluk-Nya untuk berbuat baik dan menjaga bumi dan isinya. bisakah kita mengatakan bahwa perbedaan merupakan salah satu ketetapan-Nya? berarti ada sesuatu yang harus kita pelajari salah darinya. dan mungkin salah satunya adalah saling menghormati dan berempati.. mungkin...

Advertisements

12 thoughts on “si super empati, keluarga Minori

  1. Kalo kata teman saya: “Di Indonesia minoritas yang harus toleransi terhadap kaum mayoritas”
    Well, selama pikirannya masih kaya gitu, jangan harap korupsi bisa ilang, negara bisa maju dan rakyat bisa sejahtera. LOL. Masalahnya, solusi biar pada ngerti tuh apa yah kira-kira de? Musti dicuci otaknya rame-rame ni kayanya =D..
    I think this thought is an effect by going to Hanoi, isn’t it? ;).

    • hehe susah, ya kayak kata temen gw tadi mungkin.. mesti ngerasain dulu..
      padahal gampang banget kan ya, cuma saling toleransi aja, gak perlu ada yang memaksakan kepercayaan antara mayoritas ke minoritas, maupun sebaliknya..

      haha.. kalo ngerasanya udah lama, tapi mungkin diperkuat gara-gara kemaren itu. tapi gw ngerasa dihargain banget, kita lagi puasa disediain tempat khusus untuk shalat dan istirahat siang. kan jadi tambah malu kalo sendirinya gak bisa toleransi..

  2. Apa sih ni? Jadi masalah lo di mana?
    Btw sekarang banyak orang yang salah kaprah dengan open-minded. Open minded itu artinya toleransi, bukan accepting value tanpa filter. Dan toleransi itu ada batasannya. Selama lo dalam batas toleransi, gak salah koq. Kaya parkir mobil aja, ada toleransi jarak antar mobil. Nah batasannya ini, kalo di real world experiment..kalo agama, berarti kitab suci atau aturan yang berlaku.

    Masalah statement yang di awal, harus di definisiin dulu yang namanya menhargai itu kaya gimana. Kalo “menghargai” itu accepting value without filter, no fuckn way.
    Experience gw sih, kalo mau nyelesain masalah DAN mengharapkan pertemuan yang exact, harus berangkat dari basic yang sama. Gak bisa kaya contoh di bawah, kecuali lo bisa bertoleransi.

    Mr. A percaya kehidupan dunia dan akhirat, so dia hidup gak cuman untuk dunia aja. Being good husband/friend/co-worker or apalah not enough.
    Mr. B percaya kehidupan dunia aja, so dia pikir ngapain sih gw harus Islam, Kristen atau apalah..karena semua agama toh baik dan cukup dengan menjadi manusia yang baik kita juga udah bisa bahagia.

    Apakah B salah? Ataukah A? You know it right? 😉

    • wah maaf ruq, yang pertama, tulisan ini tidak membahas tentang masalah. ini membahas pemikiran gw. jadi untuk pertanyaan di kalimat pertama lo, gw gak bisa jawab.
      everybody have their right to have their own opinion right?

      dan yang kedua, ada yang salah tangkap sepertinya.. gw gak mengatakan bahwa gw setuju hidup tanpa agama. agama itu keyakinan. keyakinan itu hati. dan sayangnya hati salah satu fitrah diciptakannya manusia, yang bedain dia dengan binatang dan tumbuhan..
      jadi kalo pendapat gw, mr B ya salah.. dan poin gw adalah, silahkan memeluk agama sesuai kepercayaan masing-masing. tapi ya hormati juga kepercayan orang lain. udah gitu aja kok, gak susah kan? 😉

      • 😉
        Sebenernya gw gak sependapat jah. Soalnya (ini pendapat pribadi lagi), trend orang yang atheis secara gak langsung itu meningkat pesat karena globalisasi.
        Dan well, Mr. B gak salah koq. Mr. A juga. Tergantung konteks mana yang lo mau pertanyakan atau jadi tolak ukurnya. Kalo sisi agama, ya Mr. A-lah yang bener. Kalo dari sisi “asal hidup ini senang”, Mr. B gak salah menurut pendapat gw. Banyak orang yang gak ada agama tapi fine2 aja. Walaupun sebenrnya mereka tetep percaya terhadap something big outside themself.

        Jadi, saran aja..kalo lo pernah berpikir untuk mau satisfy semua orang, terkadang kita end up dengan malah tidak dapat nge-satisfy semuanya. Pilih yang paling sesuai dan review batas toleransi.

        **sebenernya gw juga kadang masih ragu dengan jawaban gw ini jah. Haha.
        Tapi pengalaman pribadi sih bilangnya gini. Keep writing!! 😀

  3. Berhubung di Indonesia yang mayoritas muslim, jadi wajar. Simpel. 😐
    Begitu pula kalo kita yang muslim berada di luar negeri, gak ada pembukaan untuk doa pembuka majelis, ya harus nerima juga, jangan dipaksakan. 🙂

  4. itu juga sering jd pertanyaan gue ketika gue masuk diranah yang bersifat sosial dan umum. di beberapa tempat bahkan seperti tidak memberi nafas selain daripada mayoritas. kalau ditanya ada yang salah? saya juga tidak tahu apa salahnya dan dimana tapi dari sisi manusia, dari sisi minoritas layaknya seorang anak yang ingin juga diperhatikan oleh orang tuanya sayangnya orang tua tidak bisa memperhatikan mungkin saking kecilnya kita.

    dan hal terakhir menurut saya terlalu riskan membahas hal ini terlalu dalam karena toh pun semua kembali pada diri masing2 individu.

    • hehe iya sih..
      emang ini tulisan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin gak ada jawabannya..

      this was just my opinion, insya Allah gw masih percaya teguh dengan kepercayaan gw, dan gw pun mengerti jika orang lain juga teguh dalam memegang kepercayaan mereka. tapi bukan berarti ngotot dengan kepercayaan masing-masing.. kalo kata slank sih : Peace! haha..

  5. Keluarga Minori tuh siapa?
    Kalau melihat analogi Faruq, kita meyakini bahwa Mr. A benar dan Mr. B salah karena kita meyakini bahwa ajaran yang benar adalah Islam, tetapi dalam berinteraksi Mr. A tidak boleh memaksakan keyakinannya kepada Mr. B. Dan perjelas batas toleransinya. Kita hanya boleh mempersilakan Mr. B menjalankan keyakinannya tetapi kita tidak boleh membantunya atau mendukungnya menjalankan keyakinannya karena kita meyakini bahwa Mr. B itu salah.
    Menggunakan pernyataan yang lebih umum dalam memimpin suatu forum umum memang tidak salah, tetapi kita jangan meninggalkan kebiasaan yang islami ketika berinteraksi dengan sesama muslim. Tetaplah sebarkan salam Islam kepada mereka, bukan mengucapkan selamat pagi/siang/sore, halo, atau hai. Anehnya kalau di kita kadang-kadang malah orang Kristen yang mengucapkan salam Islam itu kepada kita. Itu pengalamanku, dan salamnya tidak kujawab.

    • minori maksudnya minoritas,,hehe..
      iya, insya Allah gak akan meninggalkan kebiasaan islam jika saat berinteraksi dengan sesama muslim.
      tapi ada kalanya kita harus ngerti gimana kondisi sekitar juga 🙂
      this is just my opinion.. hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s