.. tapi semua tekanan sebenarnya berasal dari pikiran. dan salah satu faktor penentu pola pikir kita adalah ekspektasi. ekspektasi orang lain.

iya gak sih?

berawal dari awal Oktober lalu, saya berkesempatan mendengarkan sharing dari seorang leader hebat, “kepala sekolah” di apprentice 2011. Salah satu poin yang disampaikan dan membuat tertohok di pojok adalah salah satu statement yang kira-kira artinya seperti ini:

jangan sampai kita selalu hidup dalam bayang kesuksesan seperti yang dipikirkan orang.

Kalo kata orang sukses itu ya begini dan begitu. lulus dari kuliah cepat, IP tinggi, kerja atau usaha, menikah, punya mobil dan lain. kita terjebak di statement itu, dan akhirnya jalan yang kita pilih adalah jalan yang memuaskan ekspektasi orang lain, jalan yang memenuhi standar kualitas orang lain.

Agak menyedihkan, tapi memang sulit ya keluar dari kotak, sulit hidup diluar ekspektasi mayoritas orang selama kita memang di tengah-tengah masyarakat.sulit tapi bukan berarti gak bisa kan ya..

Ibarat kalau ada Bapak-bapak ke mall menggunakan sendal jepit tanpa dan kaos putih lusuh, pasti penjaga toko males deketin, padahal siapa tau dia pemilik mall itu.  orang gak punya kerjaan, hidup pas-pasan, terus pasti orang beranggapan bahwa dia tidak (atau belum) sukses, padahal siapa tau orang itu sangat menikmat hidupnya saat ini. (analoginya agak gak nyambung ya, tapi ini definisi saya sendiri atas kesuksesan sebuah analogi. halah!)

Jadi ingat, kadang di saat kita mencapai sesuatu yang mungkin diidamkan orang atau menurut orang hebat, tapi kemudian kita sendiri merasa “kosong”. kadang timbul pikiran “gw lagi ngapain ya sekarang?” atau “ngapain sih gw kayak gini?”. Mungkin itu imbas dari usaha kita memenuhi ekspektasi orang lain, memenuhi eligibility criteria yang dibutuhkan untuk bisa dikatakan sukses oleh orang lain. bukan sukses versi kita sendiri.

Dicoba diimplementasikan. ternyata memang sulit. satu langkah besar sudah diambil untuk membelokkan jalur yang sudah saya rancang selama ini. saya belokkan karena pada akhirnya saya sadar bahwa jalur itu adalah hasil ikut campur ekspektasi lingkungan. bukan jalur yang membawa saya ke definisi sukses menurut diri saya sendiri. tapi sekali lagi, sulit bukan berarti tidak bisa kan ya :)

Para startup-er gak boleh gentar lihat teman-temannya kerja makmur di korporat, karena menurut kita, sukses itu adalah ketika usaha kita berkembang dan bisa membuka lahan pekerjaan.

Para akademisi gak boleh gentar liat teman-temannya sudah melanglang kemana-kemana, karena menurut kita, sukses itu adalah ketika ilmu kita bertambah dan bisa diberikan kepada calon mahasiswa kita nantinya.

Para developer gak boleh gentar liat yang lain udah kece pake baju kantor berjalan ke gedung menjulang, karena menurut kita, sukses itu adalah ketika kemampuan kita menghasilkan karya-karya yang memajukan IT Indonesia.

Para korporat gak boleh gentar liat para pengusaha ongkang-ongkang kaki menikmati omsetnya, karena menurut kita, sukses itu adalah ketika kita bisa berkontribusi dan menimba ilmu sebanyak-banyaknya pada perusahan.

Para seniman gak boleh gentar liat yang lain bekerja di perusahaan minyak, karena menurut kita, sukses itu adalah ketika dari tangan kita lahir seni-seni yang membuat hidup lebih berwarna.

dan sebagainya, dan sebagainya.

Pada akhirnya, semua makhluk gak boleh gentar dalam mencapai cita-citanya dan memenuhi ekspektasi dirinya sendiri, karena menurut kita, sukses itu adalah ketika kita percaya, yakin, dan usaha, bahwa Tuhan telah menyiapkan yang terbaik untuk kita.

petuah dari om Jobs :D

Advertisement